Langsung ke konten utama

BAHASA DAERAH SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER SISWA SD


Munculnya kurikulum 2013 menimbulkan berbagai tanggapan dari masyarakat terutama pada pada masyarakat dalam dunia pendidikan. Tangapan masyarakat tentang kurikulum 2013 sangatlah beragam, salah satu diantaranya pada eksistensi bahasa daerah. Di Indonesia ada ribuan bahasa daerah yang mempunyai ciri khas masing-masing. Untuk itu pendidikan bahasa daerah di dalam keluarga haruslah lebih intensif karena bahasa daerah adalah bahasa ibu.
Di Yogyakarta sempat muncul demonstrasi dari mahasiswa salah satu perguruan tinggi negri di Yogyakarta yang tergabung dalam forum peduli bahasa daerah menuntut agar bahasa jawa menjadi mata pelajaran tersendiri sehingga tidak terjadi kekurangan jam pelajaran dan jangan sampai mata pelajaran bahasa daerah hilang dari kurikulum. Demo ini secara resmi ditanggapi oleh perwakilan dari DPRD DIY yang akan mendukung pelestarian bahasa jawa dengan memasukan bahasa jawa dalam perda istimewa.
            Berdasarkan fakta yang muncul bahwa belakangan ini generasi muda sudah mulai meninggalkan bahasa daerah. Generasi muda sudah tidak menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi soaial di daerah. Kenyataan seperti ini seperti ungkapan anak anak yang lahir tanpa mengetahui siapa yang melahirkan. Memudarnya penggunaan bahasa daerah juga dapat dilihat dari orang tua yang memberikan pedidikan sejak bayi dengan menggunakan bahasa Indonesia terutama pada ibu-ibu muda. Sebenarnya pendidikan bahasa daerah dilakukan pada saat anak mulai dapat berkomunikasi sehingga mereka dapat mengetahui bahasa ibunya. Pendidikan bahasa daerah dapat dilakukan dengan  memperkenalkan lagu-lagu bahasa daerah, tata krama kedaerahan dan nilai-nilai moral yang terdapat dalam bahasa deerah. Komunikasi yang dilakukan pada keluarga ini biasanya dilakukan pada anak usia 0 sampai 5 tahun sebelum anak masuk dalam dunia sekolah.
Setelah anak bertumbuh dan berkembang sampai mencapai usia sekolah dasar anak akan dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya.  Sekolah adalah salah satu tempat sosialisasi yang penting bagi generasi muda. Sekolah sebagai lembaga formal mempunyai peraturan-perturan sendiri yang mengharuskan murid untuk mematuhinya, seperti seragam, jam-jam pelajaran, tata karma terhadap guru dan sebagainya (http://www.tembi.net/). Penggunaan bahasa Indonesia sebagai pengantar dalam dunia pendidikan  sebenarnya tidaklah mengganggu terhadap eksistensi bahasa daerah karena dalam berinteraksi disekolah diluar pembelajaran juga akan menggunakan bahasa daerah. Tugas guru sebagai pengganti orang tua selama di sekolah untuk memberikan pengarahan dan pendampingan bagaimana penggunaan bahasa daerah di lingkungan sekolah yaitu komunikasi dengan guru, dan dengan teman sebaya. Semua itu harus diperhatikan karena nantinya akan menjadi suatu bekal dalam kehidupan bermasyarakat.
Bahasa mempunyai nilai-nilai moral yang tinggi. Seperi halnya bahasa jawa  mempunyai tingkatan dalam berbahasanya, seperti bahasa ngoko, bahasa krama, dan bahsa krama inggil. Tatanan dalam berbahasa itu akan membantu masyarakat untuk mengembangkan nilai-nilai moral yang budi luhur pada masyarakat jawa. Dengan demikian penggunaan bahasa jawa dapat digunakan untuk menumbuhkan karakter bagi orang yang memakainya. Karakter yang yang kuat akan sangat membantu bangsa kita untuk menunjukan jatidirinya sebagai bangsa yang majemuk dan beragam.

Tri pusat pendidikan harus selalu dilaksanakan karena akan memberikan suatu manfaat pada diri anak dengan saling kerjasama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam upaya pembentukan karakter anak. Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara (Suyanto.2012.Urgensi Pendidikan Karakter). Bahasa daerah yang didalamnya mengandung makna tersirat yang dapat membentuk karakter anak yang berlaku di masyarakat yaitu nilai kesopanan, tingkah laku, dan tutur bahasanya. Inilah tugas orang tua, guru, dan masyarakat yang harus dipenuhi dengan mendidik anak menggunakan bahasa daerah maka nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat terserap siswa dengan baik dapat disimpulkan bahwa bahasa daerah tidak hanya sebagai sarana komunikasi tetapi sebagai sarana pendidikan karakter. (Teguh Martanto, Mahasiswa PGSD UST, Yogyakarta).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEPENGET

PEPENGET merupakan kata dalam bahasa jawa yang berarti pangeling-eling atau sesuatu agar tetap mudah mengingat.  kali ini yang akan saya tulis adalah sesuatu yang mengingatkan pada peristiwa besar yaitu ketika ayah saya meninggal dunia. 3 Maret 1952 ayah saya terlahir di dunia ini, tanggal 25 mei 2012 hari Jumat Wage pukul 05.45 WIB ayah saya bernama Thomas Karsono dipanggil Tuhan dalam umur 60 tahun. setelah sekian lama merasaakan sakit diabetes dengan komplikasi ginjal dan jantung sempat Haemodialisis atau sering dikenal dengan cuci darah selama 8 kali kalau tidak salah di Rumah Sakit Umum Daerah Wates. sungguh tak kuasa melihat ayah saya menghembuskan nafas terakhir, dan sungguh tak di duga2 ketika itu tanpa meninggalkan pesan apapun ayah pergi meninggalkan kami. ya saya dan ibu serta adik kini sudah mulai mengikhlaskan kepergian bapak semoga segala dosa diampuni dan amal kebaikan di dunia diterima disisi Tuhan. Amin. **bagi penbaca yang rela meluangkan waktu ...

Puisi Berduri

Kumbang terbang melayang-layang tak melihat kesungguhan sang bunga kesana kian kemari tak peduli, sungguh tak peduli lagi sang bungapun layu seiring rindu bukan kasih suci namun puisi berduri

Malaikat Tak Bersayap

Mengenalmu adalah hal terindah bagi hidupku Sungguh takkan bisa kulupa Senyum indahmu masih terbayang dibenakku Meski   singkat namun membekas Melepasmu adalah hal tersulit bagi diriku Bak malaikat tak bersayap yang tak bisa kembali ke surga Sunyi sendiri   rasakan peri Memimpikanmu kembali