Satu lagi aku menemukan yang menurut saya sangat memprihatinkan, ketika aku dan teman-teman berusaha merintis Pendampingan Iman Anak atau sering dikenal dengan sekolah minggu 'St. Bonaventura' Ketanggungan, Yogyakarta'
Seorang nenek yang kebetulan mempunyai cucu yang ikut dalam kegiatan sekolah minggu beliau menceritakan cucunya karena sekolah di sekolah tiga bahasa yang saat ini masih berada di jenjang taman kanak-kanak. bahwa dalam muatan pelajaran di sekolah cucunya itu pengantarnya menggunakan bahasa inggris anak itu berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia setiap harinya dan apabila berdoa menggunakan bahasa inggris.
Satu lagi yang membuat saya tercengang cucunya itu memanggil neneknya dengan sebuatan GrandMo. . hari minggu pagipun tiba, kala itu tanggal 17 februari 2013 acara sekolah minggu dilaksanakan sangat ramai sekali riuh suara anak-anak disitu. salah satu dari ke-2 cucu nenek itu muntah karena sakit, akhirnya kami fasilitator menyuruh mereka pulang. saya pun memberikan pesan nanti kalu ditanya GranMo kegiatan sekolah minggu apa saja? jawabnya menyanyi, mewarnai, dan lain-lain. anak itupun menjawab sebutan neneknya adalah eyang ibu. hah?? pikirku heran, ternyata nenek itupun berbohong demi mengunggulkan kedua cucunya itu dengan menyebut dirinya GrandMO.
Wow sangatlah ironis sekali orang jawa tidak mengajarkan bahasa jawa pada generasi penerusnya. apa nasib bahasa jawa nanti ya?? kalau yang tua-tua saja seperti itu.
apakah masih bisa disebut orang jawa kalau orang-orangnya tidak bisa berbahasa jawa?
#KewajibanKita
#KewajibanKita
Komentar
Posting Komentar